Kali ini sengaja saya buat edisi
Bahasa Indonesia yaaa, soalnya saya mau cerita pengalaman saya ketika naik
gunung kemarin dan yang pasti masih dalam tagline cinta Indonesia hohoho.
Karena biasanya saya menulis menggunakan Bahasa Inggris, jadi maafin ya jika
Bahasa saya campur aduk antara baku dengan gaul hahaha :P
Nah pertama-tama, sebenarnya naik gunung merupakan salah satu resolusi tahun 2015 saya, tapi saya gak nyangka juga bakal langsung ke Ranu Kumbolo :’)
Nah pertama-tama, sebenarnya naik gunung merupakan salah satu resolusi tahun 2015 saya, tapi saya gak nyangka juga bakal langsung ke Ranu Kumbolo :’)
Saya berangkat ke Ranu Kumbolo
itu awalnya sok-sok an dan ayo-ayo aja karena di ajak teman. Itu juga ternyata
bergabung dengan rombongan kelas sebelah, jadi sebenernya saya dan teman cewek
saya satu lagi (sebut saja Selfy) itu istilahnya nyasar lah ya :o hahaha. Cuek
cuek aja sih, malah biar nambah akrab dengan sesama anak akuntansi UB :)
Kami berangkat hari Kamis tanggal
14 Mei 2015, pas tanggal merah. Rombongan total berjumlah 19 anak, 10 cowok dan
10 cewek. Kami berangkat dari Malang tepat jam 7 pagi naik motor ramai-ramai.
Kami menempuh perjalanan lewat Tumpang, jadi jika teman-teman ada yang pernah
ke Bromo lewat tumpang, setelah gerbang bromo itu ada tulisan Ranu Pani/Semeru
ke kanan, nah kami lewat situ. Perjalanan lumayan pegal-pegal karena posisi
jalan menanjak dan membawa carrier, jadi otomatis kaki ikut menahan dan paha menjadi
kencang dan pegal. Tetapi jalan menanjak hanya sampai gerbang bromo saja kok,
mulai jalan menuju Ranu Pani jalan lumayan landai, tapi jalan jadi lebih banyak
bolongnya sehingga harus ekstra hati-hati. Asli, sesampainya di Ranu Pani itu
paha saya sudah pegal-pegal, padahal belum ngapa-ngapain :”. Sepanjang
perjalanan kita bisa melihat pemandangan gunung-gunung yang eksotis. Sempat ada
masalah juga pada rombongan kami, dari ada yang rantai copot, ban motor pecah,
tapi Alhamdulillah semua selamat sampai Ranu Pani :)
Kami sampai di desa Ranu Pani tepat
jam 9 pagi. Setelah parkir motor, kami beranjak menuju tempat pendaftaran
pendakian. Masih jam 9 saja antrian sudah lumayan panjang, mungkin karena efek
tanggal merah jadi banyak yang melakukan pendakian. Di situ yang mengurus ketua
rombongan, jadi saya juga gak ngeh di suruh ngapain aja. Yang pasti kita
disuruh mengisi daftar nama, barang bawaan, bayar tiket, lalu ada briefing dari
pihak sana mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pendakian.
Sembari menunggu urusan tersebut, kami beristirahat dan makan untuk memasok
energi untuk pendakian nanti.
Danau Ranu Pani
Akhirnya pukul 12 siang kami
mulai melakukan pendakian. Kami harus melalui Pos 1, 2, 3, dan 4 untuk mencapai
Ranu Kumbolo. Berhubung ketua rombongan mengusulkan untuk memotong jalur guna
mencapai Pos 1, kami memutuskan untuk ikut saja. Kami menggunakan jalur yang
biasa digunakan porter. Jika jalur pendakian biasa itu memutar, maka jalur ini
memotong di tengah-tengahnya. Yang pasti, jalurnya menanjak. Berhubung ini
pendakian pertama saya, tentunya saya kehabisan nafas dan sesekali berhenti
(gak cuman saya, yang lain juga hehe). Setelah sampai di ujung tanjakan, jalan
menurun dan bertemu lagi dengan jalur pendakian yang biasa digunakan. Ternyata jalan
menuju Pos 1 masih jauh. Kami pun tancap menuju Pos 1 dan beristirahat sejenak
di sana. Di situ saya mulai merasakan lelahnya mendaki. Sebenarnya yang
berperan menambah lelah juga adalah carrier yang melekat di punggung. Kalau
tidak bawa carrier sih, bablas deh.
Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos
2 cukup dekat, dan jalannya pun landai, sehingga kami berjalan sembari
bercengkrama. Oiya, jangan lupa untuk wajib sapa-menyapa dengan sesama pendaki
yang bertemu di jalur pendakian, ya! Saling menyemangati, sungguh terasa sekali
rasa kekeluargaannya. Bahkan ada mas-mas yang saling salip-menyalip dengan
rombongan kami, jadi ketemu terus hehe.
Nah dari Pos 2 menuju Pos 3,
jalan lumayan jauh, itupun ada yang menanjak. Kami mulai diam, mengatur nafas
saja ngos-ngos an, mana sempat ngobrol-ngobrol, deh. Mungkin untuk yang biasa
mendaki tanjakannya tidak seberapa, tetapi bagi pemula seperti saya ya pastinya
ada apa-apa to, hoho. Di sini
rombongan kami mulai terpisah-pisah karena perbedaan stamina. Ketua saya sudah
melesat di depan bersama dengan cowok dan cewek strong lainnya (alibinya sih
buat nyari spot camp di Ranu kumbolo). Yang ngajakin saya sambil bilang dia
juga lelet dan janji bakal nemenin saya di belakang pun juga udah ikut jalan
kilat -_- (kata teman saya, orang kalau naik gunung keliatan aslinya semua.
yep). Saya? Ya ikut rombongan belakang pastinya hahaha. Nah jalur di antara Pos
2 dan Pos 3 ini ada bagian jalan yang longsor. Jadi kami harus turun dan
menyusur tali yang telah dipasang di pinggirnya. Ketika sampai ujung, untung
ada mas-mas pendaki yang baik hati membantu menarik pendaki yang menyusur tali
itu karena pijakannya tinggi. Saya saja waktu ditarik pasrah menumpukkan berat
badan saya saking lemasnya (makasih, mas :’)). Di sini teman-teman pun mulai
lelah mencari-cari dimana Pos 3, apa jangan-jangan udah terlewat lagi (mana
mungkin). Akhirnya setelah berjalan dengan sesekali break, ketemu juga sama Pos
3. Oh iya, di Pos 2 dan 3 sih katanya ada sinyal, jadi yang mau telpon-telpon
silahkan soalnya dari Ranu Pani itu sinyal sudah hilang blas, cuman ada
operator ceria (saya sendiri gak sempat buka-buka hape, lelah hayati :’))
Perjalanan dari Pos 3 menuju Pos
4 mulai lumayan semangat. Dari kejauhan danau Ranu Kumbolo sudah mulai
terlihat! Olala, dengan semangat 45 kami mulai mempercepat jalan. Dan ketika
menyambangi Pos 4, kami bisa melihat full view danau Ranu Kumbolo dari atas.
Subhanallah!
View Ranu Kumbolo dari Pos 4
maaf muka buluk :(
Setelah berfoto-foto ria, kami
turun ke bawah. Hati-hati ya, karena lumayan curam jalannya, jangan sampai
glinding ke bawah hehe. Nah ternyata teman-teman kami yang sudah duluan tadi
sudah menempati spot untuk mendirikan tenda. Kami mendirikan tenda di sana
karena spot camping di depan tanjakan cinta sudah full. Tak apa, yang penting
sampai! Total jarak pendakian kami (rombongan belakang) adalah 10,5 km dengan
waktu 5 jam, karena kami sampai di Ranu Kumbolo jam 5 sore. Untuk ukuran
pendaki pemula sih cukup cepat, karena kami termasuk jarang istirahat dan break
juga :’)
Tepar sampe spot camp (itu depan danau Ranu Kumbolo lho)
Ketika malam menjelang, dinginnya
tiada tara. Dinginnya Kota Malang tidak ada apa-apanya. Yang saya baca suhu
minimal Ranu Kumbolo -5° hingga -20° Celcius. Dan yang say abaca bulan Mei ini
termasuk ekstrim jadi, ya, dingin :”. Saya memakai manset, kaos, hoodie,
sweater, jaket parasut, legging, celana training, kaos kaki 3 lapis, kaos
tangan 2 lapis , topi wol, matras dan sleeping bag. Itu saja masih kerasa
dinginnya brrrr (efek sleeping bag yang tipis juga). Itu malam terpanjang yang
pernah saya alami. Rasa dingin dan kaki yang mulai terasa pegalnya pun
menghalangi tidur saya. Kaki dan tangan kadang mati rasa, yang masih terasa
pedasnya adalah salonpas cabe yang saya tempelkan di kaki dan punggung,
hahahaha. Saya tidak bisa membedakan apakah saya tidur atau tidak karena saya
bolak-balik bangun benerin sleeping bag. Malam itu juga, salah satu teman
setenda saya mengalami hipotermia dan sesak nafas. Alhamdulillah, setelah
diberi oksigen, dipeluk, diberi minyak angin, jaket dan sleeping bag tambahan,
dia berangsur-angsur normal (tapi asli horor banget).
Langit Malam Ranu Kumbolo
Subuh-subuh, sekitar jam setengah
lima beberapa dari kami mulai berjalan ke arah spot di depan tanjakan cinta
untuk menyaksikan view sunrise J.
Speechless. Tidak ada yang bisa menyaingi keindahan ciptaan Allah SWT J
Sunrise!
Sebagian personil
Ranu Kumbolo!
Tanjakan Cinta
Setelah matahari beranjak naik,
kami langsung menuju tanjakan cinta. Ternyata tanjakan cinta tak selandai
kelihatannya :’) itu lumayan nanjak dan curam bagi saya. Sebagai penderita
acrophobia, saya harus mendaki pelan-pelan, takut glinding L . Tanjakan cinta ini
mitosnya, jika mendaki sambil memikirkan pasangannya tanpa menengok ke belakang
sama sekali hingga puncak, maka cintanya akan abadi (iya gak sih?). Saya?
Berhubung saya-ehem-single jadi saya cuek-cuek aja nengok ke belakang buat
foto-foto, hahahahaha. Gosipnya jika nengok ke belakang, bakal balikan sama
mantan, lho! (kalo ini asli ngarang HAHA). Setelah berusaha dengan keras, nafas
ngos-ngosan, akhirnya sampai juga di ujung tanjakan cinta. Nah di baliknya kami
bisa melihat oro-oro ombo alias padang lavender yang tersohor. The view is
amazing, literally :’)
View Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta
Tanjakan Cinta
View Oro-oro Ombo dari atas
Lavender oh lavender
Setelah puas, maka saya kembali
ke tenda untuk istirahat sebentar. Lalu saya dan Selfy teman saya pergi ke
sudut lain (?) Ranu Kumbolo untuk berfoto.
Foto ala-ala ngehits
Setelah dari sana kami pun makan
siang. Lalu setelah beres-beres segala macam pukul setengah dua siang kami
mulai berangkat untuk turun kembali menuju Ranu Pani (jalan disertai kabut).
Kali ini untuk turun hanya memakan waktu 4 jam J
Alhamdulillah, LUAR BIASA!
Kabut saat kami turun kembali ke Ranu Pani
Next plan? Muncak sampai
mahameru, gak sampai Ranu Kumbolo aja maybe. Aamiin.
Gimana? Tertarik untuk menyusul
saya?
Feel free to ask me J
XDXDXDXDXDXD


























MGM Grand Hotel & Casino in Las Vegas - JT Hub
ReplyDeleteMGM Grand Hotel & Casino 창원 출장마사지 · Book the best rates at 대구광역 출장마사지 our site 충주 출장안마 · Enjoy 24/7 friendly customer 여주 출장마사지 service and online booking · Enjoy more from 공주 출장안마 JT Hub's